Nderes Wit Klapa
Ada yang tau apa itu nderes wit klapa?
Ya.....
Nderes itu kata lain dari sadap bukan nderes alqur'an yah, beda pengucapan.
Wit klapa itu pohon kelapa
Jadi definisi nderes wit klapa menurut saya adalah memanjat pohon kelapa untuk mengambil / menyadap nira dengan pongkor dengan cara memotong manggar atau bunga pohon kelapa.
Air nira kelapa biasanya disebut BADEG. mungkin dalam bahasa indonesia penderes itu disebut tukang sadap air nira kelapa.
Sedangkan orang yang melakukan itu disebut dengan "Penderes"
Alat- alat yang dibutuhkan untuk ndres adalah:
-arit
Arit atau celurit adalah besi tajam yang biasa digunakan untuk memotong manggar.
-pongkor
Pongkor adalah bambu yang dipotong dengan ukuran pongkor atau kalau sekarang pongkor diganti dengan plastik, sehingga menjadi lebih ringan.
-tali pengait pongkor
Tali pengait pongkor biasanya dibuat dari tali rafia yang di anyam sedemikian rupa sehingga membentuk tali seperti itu untuk mengait pongkor ke pengait besi yang ada di sabuk / benting.fungsinya agar pongkor bisa di taruh di belakang punggung saat memanjat pohon
-benting dengan pengait besi
Benting atau sabuk pengait ini biasanya dibuat dari karet dan di beri besi dibelakangnya untuk menaruh pongkor.
-Tempat menaruh arit
Tempat menaruh ini biasanya dibuat dari kayu ..agar arit bisa ditaruh di pinggang.
- pikulan
Pikulan bukan pukulan yah..
Pikulan ini gunanya untuk memikul pongkor saat jarak jauh..sehingga terasa lebih ringan.
Sebagai anak dari seorang penderes aku tau betul bagaimana proses awal sampai badeg/ nira itu berubah menjadi gula merah yang sering kita lihat.
Disini aku akan menceritakan sendiri mengenai cara" yang bapak aku lakukan ketika nderes hingga menjadi gula dan bisa dijual.
Seorang penderes yang rajin, biasanya akan bangun sejak subuh, lalu solat berjamaah di masjid, berdzikir setelah semua selesai lalu ngopi lalu menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk nderes.
Persiapannya dimulai dengan menyiapkan pongkor terlebih dahulu dengan diisi laru.laru adalah obat atau ramuan yang digunakan untuk pembuatan gula. Laru ini terbuat dari air dicampur batu kapur yang sudah mencair.
Saat pencampuran itu di beri juga kulit manggis atau kulit kayu pohon apa gitu g tau namanya. Agar laru bisa berwarna orange atau kuning atau merah.
Sebenarnya ada obat gula yang bisa dibeli di warung" tetapi di daerah kami lebih alami jika dengan bahan" yang alami juga.
Setiap pongkor akan diberikan larutan laru sedikit" mungkin 3 sendok makan. Tak pernah menimbang juga saya.
Langkah selanjutnya asah dulu arit yang akan digunakan untuk memotong manggar agar mudah memotongnya. Potongan manggar paling tidak 2 mm. Perlu keahlian tersendiri saat memotong manggar hingga dapat mengeluarkan nira dengan banyak, tapi faktor lain agar nira banyak adalah lokasi dari pohon itu sendiri.
Biasanya orang- orang ditempatku memiliki wilayah pohon kelapa yang berbeda beda, sehingga pongkor dipisah" sesuai wilayah pohon kelapa itu.
Pakaian yang digunakan para penderes biasanya sendal capit(biasanya dipake kalau masih pagi, semakin siang sendal akan di gantung juga, lebih baik nyeker ) lalu celana pendek , baju kaos yang menyerap keringat, topi (kalau tempatnya panas, gunanya untuk melindungi kepala)
Pakai sabuk hitam, tempat menaruh arit, dan taruh adit disana, gagah sekali bukan. Hampir penderes yang aku lihat pasti badannya kurus dan atletik karena perutnya six-pack .dan mereka sangat kuat. Kaki dan daya tahan tubuhnya.
Pongkor yang sudah disiapkan di pikul lalu pergi ke tempat tujuan nderes nya dimana.
Jika rata-rata penderes memiliki 30 pohon kelapa, dan tinggi pohon kelapa 10 m maka 30 x 10 = 300m mengambil nira dalam sehari harus 2 kali jadi 300 m x 2 = 600 m belum ditambah jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya, belum jika kebun yang ada pohon kelapa nya jauh". Anggap aja 10 m jarak antar pohon yah. Berarti 30 pohon * 10 m = 300 m bolak balik pagi dan sore berarti 300 x2 =600 m. Berarti totalnya 1.200 m, 600 m dengan memanjat dan 600 m dengan jalan kali sambil memikul nira yang telah dihasilkan.
Coba bayangkan berapa energi yang digunakan untuk menderes. Lelah bukan. Asal dinikmati, dijalani dengan ikhlas mereka akan lupa rasa cape itu setelah tidur.
Menderes Salah pekerjaan yang tak ada liburnya, risikonya besar, salah sedikit jatuh bisa meninggal.
Tanggal merah tak ada gunanya bagi para penderes. Mau hari raya pun, mereka akan mensiasati dengan menderes dengan lebih pagi.
Setiap pohon memiliki 1-4 mancung/ manggar. Tergantung dari pohon tersebut.namun rata" setiap pohon adalah 2-3 mancung yang dapat menghasilkan nira. Nira yang dihasilkan antara maksimal kurang lebih 1,5 liter. Tapi jarang sekali penuh, rata" setengah liter mungkin.
Misalkan 30 pohon * 2 mancung berarti 60 pongkor. Setiap pongkor setengah liter berarti 60 * 1/2= 30 liter nira .
Nira yang dihasilkan biasanya akan dipengaruhi oleh musim yang sedang berlangsung. Saat musim hujan nira akan banyak karena ditambah dengan air hujan, jika musim kemarau akan sangat sedikit.
Setelah nira terkumpul ibu biasanya akan memasak air nira ini dengan tungku, atau pawon, juka dengan pawon besar harus dengan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya.
Jika menggunakan tungku harus menggunakan merang kayu dibantu dengan kayu bakar sedikit.
Masukan nira kedalam wajan yang sudah ditaruh jubung, masak sampai mendidih hingga mengental menjadi adonan gula.
Mamaku biasanya akan memasak nira dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore sekitar 4-6 jam memasak gula tergantung banyak tidaknya nira yang dihasilkan.
Dari 30 liter air nira mungkin akan menjadi gula 6 kg.
Aku tak tau perbandingan ukuran nira cair menjadi gula. Perhitungan ini hanya perkiraanku saja.
Istilah" selama memasak nira:
*sor-sorna
Adalah proses memindahkan nira dari pongkor ke wajan dengan cara dituangkan. Dalam bahasa jawa di sor na.
*mludag
Istilah ini digunakan ketika nira yang panas akan mengeluarkan busa / gelembung putih yg akan keluar atau tumpah atau jatuh dari wajan.tumpahan ini yang dinamakan mludag .
Bisa juga ketika munjuk gula akan naik dan keluar dari wajan.
*umeb
Bahasa indonesia nya adalah mendidih, setelah nira berwarna putih pertanda nira akan mendidih sebentar lagi
*manggar, klari, hewan", semut
Adalah sampah" yang masuk ke dalam nira dan harus disaring terlebih dahulu sebelum memasak nira
*jubung
Bambu yang dianyam berbentuk tabung tanpa tutup digunakan untuk meminimalisir mludag dan munjuk
*munjuk
Munjuk adalah proses dimana nira sudah berwarna kuning pertanda sebentar lagi akan matang gulanya.
*gula nom
Gulanya masih muda, maksudnya nira yang sudah mengental tetapi belum bisa diangkat, harus sebentar lagi
*gula tua
Gula yang seharusnya diangkat tapi terlalu lama di pawon.
* gorogi atau gojogi
Adalah membersihkan pongkor dengan cara dicuci dengan memasukan air kedalam kompor lalu dibersihkan dengan tepes.
*ngonclang
Adalah memasukan nira mendidih ke pongkor, digilir sampai semua pongkor dimasuki nira mendidih itu.
Ngonclang dangorogi ini berlaku untuk pongkor yang terbuat dari bambu. Sedangkan pongkor yang terbuat dari plastik cukup di gorogi atau dicuci dengan air saja.
* sorok
Sorok disini biasanya besar dan terbuat dari bambu
* tepes
Alat buat cuci pongkor atau cuci piring juga bisa, terbuat dari serabut kulit kelapa atau kandi yang rusak.
* siwur
Siwur atau gayung atau bathok kelapa biasanya digunakan untuk tempat gula agar mencetak gula lebih mudah.
* soled/ colek
Ini juga terbuat dari bambu, untuk mencetak gula
* sengkang
Cetakan gula yang terbuat dari bambu kecil yang di potong-potong.
* ubek-ubek
Adalah proses mengaduk- aduk gula sejak wajan diangkat dari pawon. Tujuannya agar gula lebih baik
*bluk-bluk
Adalah bunyi saat meng ubek-ubek gula
* pengubek
Pengubek gula biasanya terbuat dari pohon kelapa yang dipotong sedemikian rupa.
* bangku
Tempat menaruh sengkang saat mencetak gula
*wisuan
Tempat sengkang di rendam dalam air di dalam baskom atau apapun itu
* kereng
Gula kering yang di dibuat dipinggir wajan tujuan awalnya untuk mengetes apakan gula yg dihasilkan akan kering dengan sempurna atau tidak.
*kutil
Sisa- gula yang masih ada setelah guladilepas dari sangkangnya.
*Copoti
Proses melepas gula dari sengkang.
Setelah gula dicetak kering lalu ditempatkan di kandi atau plastik.
Jika gula yang di hasilkan adalah 6 kg * 30 hari = 180 kg dengan harga Rp. 10.000 per kg maka 180* 10.000=1.800.000.
Jika gulanya maro( penderes hanya mengambil nira, bukan punya sendiri) maka perhitungan nya 5 hari( sepasaran ) jadi milik si empunya pohon, yang 5 hari punya penderes maka:
3 pasaran 6* 15= 90
3 pasaran 3* 15 = 45
Jadi totalnya 135 kg * 10.000 = 1.350.000
maaf kan jika salah dalam perhitungannya, krn ibu saya sendiri selalu bilang kalau gula yg dihasilkan sedikit.
Setelah itu tinggal dijual ke tengkulak.
Sekian dan terimakasih telah membaca tulisan saya yang bersumber dari pengamatan saya terhadap bapak ibu saya sendiri.
Semoga kesejahteraan penderes semakin meningkat, jaminan hidup nya lebih menjanjikan.
Quotes dari my bapak " ikhlas dan nkkmatilah apapun pekerjaanmu, hingga kalian dapat menemukan kenyamanan dalam bekerja, bekerja adalah ibadah, maka bersyukurlah."